Senin, 23 Juni 2008

Lelaki itu...

Spectrum jingga memacar di balik bumi
Sang mentari perlahan sembunyi
Adzan Maghrib berkumandang
Cepat sigap dia bertandang

Ku ingin seperti lelaki itu…

Langkahnya tenang menuju surau dekat rumahku
gambaran ketenangan hati sanubari
baju putih, kain sarung, peci berpadu satu

gaya hidup sederhana di masa kini


dia usap lembut beberapa anggota badan
dengan air wudhu dari kucuran kran
dia ucap pelan bebera permohonan
sucikan, sucilah… , hati dan pikiran


dari debu, dari niat jahat dan keji
dari kotoran dan noda ambisi – ambisi
dari salah ucap kata – kata latah
dari salah latak gerak polah tingkah


iklas - iklaskan diri menghadap Illahi
tak mungkin basa – basi apalagi menipu diri
dia tahu bahwa Tuhannya pasti tahu
karena Tuhannya tak pernah tidur


Ku ingin seperti lelaki itu…


Cerdas mengelola diri dari waktu ke waktu
Kau utamakan kewajiban
lima waktu
Diantara beratus keharusan dan aturan
Bekal kekal di akhir kehidupan






Senin, 16 Juni 2008

Wahai Sahabatku

Wahai sahabatku yang selalu datang terlambat
dengan fasilitas lengkap terima hak tak pernah telat
Berakar dan berkembang bak benalu
Sudah putuskah kau punya urat malu?


Kau putar otak mengulur waktu
Sambil main sol – solan kartu
Kau memerintah pakai bahasa sepatu
Berdalih titah para pangeran dan ratu


ku mengerti “bagiku urusanku – bagimu urusanmu”
namun mengertilah kau makin terlalu
kau lupakan kepalamu, kau hitung rambutmu
kau biarkan terurai menutup hatimu


Wahai sahabatku yang profesianal
Selalu mampu menyelasaikan persoalan
Walau dengan kasak - kusuk cari backingan
Juragan centeng petentang - petenteng kurang kerjaan


Pagi ku berangkat agar semuanya tepat
berusaha tetap taat walau terima hak telat
dulu kita suka bercanda tetapi kini bukan waktunya

Aku sedang susah jangan lagi dibuat marah - marah




Gagak Rimang

bergerombol dan bergerak, terbang tinggi di langit

sayap hitam terkepak, dalam kehidupan menghimpit

saat bumi mulai gelap, langit didaulat jadi atap

tak punya tempat tetap, tak pasti kapan menetap


duduk dan bicaralah padaku, oh… gagak – gagak rimang

tunjukan cara memahamimu, oh… gagak – gagak rimang


hitammu pesona kekuatan, mata merahmu adalah kejelian

paruhmu janjikan kepedihan, cekeramanmu tak teruraikan


duduk dan bicaralah padaku, oh… gagak – gagak rimang

tunjukan cara memahamimu, oh… gagak – gagak rimang


kau tahu sisi – sisi buruku, berjalan dalam bahaya

hitam, bau dan kotor mengitariku, menari tanpa ketukan nada


meski begitu masih kukatakan silahkan,

jika kau tahu dan bernar – benar ingankan

tinggal kau tuntun aku suatu tempat,

dan biarkanku pergi cepat





Kau Hebat

Kau bicara “banyak”
Aku hanya bicara takaran
Kau bicara “besar”
Aku hanya bicara ukuran
Kau bicara “benar”
Aku hanya bicara aturan
Kau bicara “baik”
Aku hanya bisa bicara nilai – nilai
Kau bicara “mimpi”
Aku hanya bisa bicara kenyataan

Bagaimana dianggap sampai
Jika tidak tahu tujuan
Bagaimana dianggap bisa
Jika tidak tau apa yang harus dikerjakan
Bagaimana mau melangkah
Sedang tak tahu kita dimana

Kau memang habat…
Kau pecahkan kaca - kaca hati
Tak bisa kita bercermin lagi
Ambang kehacuran semakin dekat